hujan celotehmu terasa sejuk menemani secangkir teh di sore hari bersama gelombang kata yang menggelora membentuk pusaran cerita yang berujung pada mimpimu tentang semangkuk laksa
dan hari masih belumlah gelap untuk tenggelam dalam lautan kata yang terlalu dalam
aku terbangun dan segenap dunia masih saja berputar seperti mimpi yang tak selesai meski jam telah beranjak tua disaat peluh terus membayang, meretas setiap gamang
aku tak meminta menjadi agung, hanya saja mataku tak bisa berpaling itu yang kutahu hampir sepanjang sadarku, juga di waktu tak sadarku
maukah kau menjagaku dalam buaian mimpi-mimpi? sebab kutakut mataku hanyut dalam putaran dan melimbung
setiap kata seperti berebut ingin bercerita terlihat padat ditengah deretan angka dan huruf belum lagi tanda baca yang bersikukuh ingin dibaca
yang tak pernah usang untuk diselami juga ditelaah meski sekian waktu telah habis untuk membacanya dan aku terus berkejaran membaca, mengutip setiap kata, lalu menulisnya kembali di setiap kesempatan
maukah kau meluangkan waktumu demi berdiam disampingku dan tak kunjung lelah menatap mendung yang menggelayut
sebab yang kupelajari dari sang waktu adalah enggan yang terbersit ketika awan bersinar kelabu hingga kubiarkan kelabu kurengkuh sendiri meski aku rindu pada hangatmu
sepiring waktu kuhabiskan dengan lahap sibuk mengunyah setiap detik dan jam sampai tak terasa perut menjadi kembung penuh dengan angin dan waktu yang berlalu
meski tak ada lagi menit tersisa di atas piring masih saja aku keroncongan inginnya ku pesan dua piring waktu lagi sayang sudah habis uang juga waktuku